INDRAMAYU – Harga garam di tingkat petambak di Indramayu, Jawa Barat saat ini makin murah, anjlok menyentuh Rp230 per Kg. Harga itu jauh di bawah harga standar pembelian sebesar Rp750 per kg.
Dengan murahnya harga jual garam, maka dampaknya menurunkan gairah petambak dalam memproduksi garam. Pada saat memasuki musim kemarau yang terik seperti sekarang ini sebetulnya merupakan waktu yang tepat memproduksi garam. Ini lantaran cuaca cukup terik sehingga mendukung produksi garam.
Pemantauan Pos Kota pada Rabu (7/8/2019) di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu setiap hari ratusan petambak garam hilir mudik menggunakan sepeda motor dari rumah menuju lahan penggaraman yang berada di tepi laut. Pada saat musim kemarau seperti sekarang ini petambak diketahui sedang ngebut-ngebutnya memproduksi garam.
“Karena cuaca bagus seorang petambak sehari mampu memproduksi garam 1 ton per hari,” ujar Armin, 47. Garam hasil produksi warga itu selama beberapa hari ditiriskan atau didiamkan di dekat lokasi penggaraman. Tujuannya agar sisa air garam di dalam karung bisa mengering.
Sudah puluhan ton garam diproduksi para petambak dan disimpan di tanggul-tanggul atau tepi jalan beton di Kecamatan Losarang dan Kandanghaur. Kecamatan Losarang sebagaimana diketahui merupakan penghasil garam terbesar di Kabupaten Indramayu. Daerah ini memiliki lahan penggaraman seluas 1.500 Hektar.
Meskipun harganya rendah, kata petambak, karena tuntutan kebutuhan ekonomi, petambak terpaksa ada yang menjual garam. “Untuk keperluan dapur, walaupun sekarang harganya sedang murah terpaksa kita jual. Harapan petambak mudah-mudahan ke depan harga garam bisa lebih meningkat,” katanya.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya pada Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu, Edi Umaedi, SP dihubungi Pos Kota, Rabu (7/8/2019) di ruang kerjanya mengemukakan, harga garam yang berlaku di tingkat petambak sekarang ini sedang turun. Harganya hanya laku sebesar Rp230 per kg. “Padahal idealnya harga garam di tingkat petambak itu di atas Rp500 per Kg,” katanya.
Rendahnya harga garam produksi petambak di Indramayu itu antara lain disebabkan karena belum adanya kegiatan penyerapan garam oleh perusahaan-perusahaan besar. “Mudah-mudahan pada bulan ini ada penyerapan garam, karena sudah ada penandatanganan kesepakatan atau MoU penyerapan garam,” katanya.
Edi Umaedi mengemukakan, garam produksi petambak di Indramayu sudah banyak yang terserap perusahaan-perusahaan besar. Hal itu karena kualitas garam yang dihasilkan para petambak di Indramayu sudah memenuhi kriteria.
Sejak setahun lalu, petambak di Indramayu sudah melaksanakan sentuhan teknologi dalam memproduksi garam dengan digunakannya geo isolator, mesin pompa serta bahan-bahan lain yang dapat mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kualitas produksi. (taryani/win)












