JAKARTA – Ratusan warga yang terdampak proyek pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter dibina Pemprov DKI Jakarta melalui program Resettlement Action Plan (RAP) alias penyediaan permukiman kembali.
Sitem RAP ini berbeda dengan penanganan warga terdampak proyek Pemprov DKI Jakarta yang selama ini dilakukan. Program RAP menawarkan kepada warga terdampak tetap dipindahkan, tetapi dengan memberikan perumahan berikut pembinaan ekonominya.
Hal itu dipaparkan Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Dwi Wahyu Daryoto, saat menerima Pempred Pos Kota Sutiyono, Wapempred Irdawati, dan Kabag Iklan Melinda Rahmi, di Thamrin City , Jakarta Pusat, Rabu (7/8).
“Setelah pindah bukan terus mereka dibiarkan, tapi kami bina dan pantau ekonominya minimal tiga tahun. Kami ingin warga yang terdampak pembangunan ITF harus berdaya secara ekonomi,” ucap Dwi.
Dwi mencontohkan, ada warga asal Brebes kemudian mereka diberi perumahan dan dibantu pembinaan menjadi peternak bebek di kampungnya. Ada juga warga Banten yang dibina untuk menjadi nelayan dan lainnya. “Jadi mereka dipindahkan, namun ekonomi mereka diperhatikan. Semua yang terdampak proyek menerima sistem tersebut dan malah berebut,” tegasnya.
Memuluskan program itu, PT Jakpro juga memfasilitasi warga terdampak ITF dengan pelayanan pembukaan rekening Bank DKI. “Jadi tidak dilepas begitu saja. Ini sudah menjadi standar bagi konsorsium asing,” katanya.
YAKIN BISA
Proyek ITF Sunter yang dikerjakan oleh PT Jakpro dan Fortum perusahaan dari Finlandia itu ditargetkan rampung pada tahun 2022. ITF dirancang bisa mengolah sampah sampai 2.200 ton per hari. Sementara total sampah yang dihasilkan Jakarta per hari mencapai 7.000ton.
Pengolahan 2.200 ton per hari akan mengurangi jumlah sampah Jakarta yang masuk ke tempat pembuangan sampah di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Pengolahan sampah di ITF Sunter, yang ditargetkan menghasilkan 35 megawatt listrik, akan menyisakan residu 10 persen.
Dwi yakin, setelah ITF Sunter tuntas dilanjutkan dengan membangun ITF di wilayah kota lainnya. Dengan demikian, masalah penanganan sampah di Jakarta bisa tuntas.
Hanya saja, kata Dwi, dalam menangani sampah tidak sederhana. “Memang tidak mudah, tapi In Syaa Allah kami bisa,” pungkasnya. (john/st)












